Makalah: Orientalisme Edward W. Said



BAB I
Pendahuluan

         Dalam bukunya Edward W. Said menegaskan bahwa hanya dengan mengkaji teks-teks orientalis melalui operasi diskursif yang berlangsung di dalamnya, sehingga bisa menyingkap relasi ideologis yang terdapat dalam orientalisme. Bagi Said, orientalisme merupakam sebuah diskursus
yang tidak berkaitan dengan satu kekuasaan politis saja, mealinkan dihasilkan melalui ajang pertukaran berbagai jenis kekuasaan. Said menggunakan teori dari intelektual kenamaan, Michael Foucault dan Antonio Gramsci yaitu teori discourse foucoult, Said mengangkat pertanyaan-pertanyaan tentang relasi kekuasaan yang melatari representasi Timur dalam genealogi orientalisme. Eward W. Said membagi empat jenis relasi kekuasaan yang hidup dalam wacana oreintalisme : kekuasaan politis(pembentukan kolonialisme dan imperialisme), kekuasaan intelektual (mendidik timur melalui sains, linguistik, dan pengetahuan lain), kekuasaan kultural (konosisasi selera, teks, dan nilai-nilai, misalnya timur memiliki kategori estetika kolonial, yang secara mudah bisa ditemukan di India, mesir, dan negara- negara bekas koloni lain), kekuasaan moral (apa yang baik dilakukan dan tidak baik dilakukan oleh timur). [1]


BAB II
Pembahasan

A. Biografi Edward W. Said

         Edward W. Said lahir di Yerussalem 1 November 1935, tepatnya di daerah Talbiyah (di Palestina Barat), Said harus mengungsi ke Mesir pasca kekalahan Palestina pada 1947 dan kemudian menjadi imigran di Amerika Serikat pada 1951. Kemudian meninggal pada 25 September 2003, di rumah sakit New York, tepat di usianya yang ke-67, akibat penyakit leukemia akut yang di deritanya sejak 1992. Sejak lahir, Said tak pernah lepas dari paradoks identitas. Hidup di Palestina yang nyaris penduduknya muslim, dengan nama depan (Edward) berasal dari Inggris dan nama belakang (Said)
dari Arab, serta nama tengah (Wadie) dari nama sang ayah. Namun Said lebih senang di anggap sebagai orang Amerika, membuat said selalu merasa sebagai “yang lain” yang berjuang utnuk tidak menjadi “Edward” ciptaan ayahnya, tidak pula menjadi “ said” ciptaan Amerika yang tak pernah jelas
genealoginya, apa lagi menjadi seoarang “Wadie” yang selalu memaksakan aturan hidup kepadannya.[2]


B. Pemikiran Edward W. Said

        Said adalah seorang diaspora, yang melewatkan sebagian hidupnya sebagai manusia yang terasing dari tanah airnya sendiri. Tahun 1967, ketika bangsa Arab dikalahkan Israel, Said terasa semakin terasing, apalagi pada saat itu Said tengah berada di Amerika Serikat yang pro-Israel. Di Amerika Serikat orang Palestina di anggap tidak pernah ada (there being no Palestinian people). Kantor Said-pun pernah menjadi bulan-bulanan pembakaran massal oleh sekelompok orang Amerika “sayap kanan”. Tahun 1968, setelah terbentuknya organisasi pembebasan Palestina, Said memutuskan untuk tidak memisahkan antara “yang pribadi” dengan “yang politik”. Keputusan inilah yang kemudian membakar semangat Said untuk menulis kajian yang subversif tentang representasi Timur dan Barat. Tahun 1970-an, ketika teori-teori tinggi Perancis mulai masuk ke dunia Anglo-Saxion, kajian pascakolonial mulai terlambangkan. Pada momen-momen penting ini dimanfaatkan oleh Said untuk menulis Orientalisme. Di antara 25 buku karya Edward W. Said yang tergolong fenomenal adalah Orientalisme. Said sempat mengakui bahwa Oreintalisme merupakan a collective book that I think supersedes me as its author more than I could have expected when I wrote it (1978). Edward W. Said bukanlah satu-satunya pemikir yang memelopori kajian pasca kolonial. 
           Sebelumnya, Aime Cesaire, dan Frantz Fanon telah melakukan hal yang sama, masing-masing denga bukunyaFrom discourse on colonialism (1955) dan the fact of blackness (1952) . akan tetapi, kajian pertama yang mengkritik ideologi kolonial secara diskursif hanyalah buku Oreintalisme nya Said. Relasi ini, menurut Said, beroprasi berdasarkan model ideologi yang disebut Antonio Gramsci sebagai hegemoni –suatu pandangan bahwa gagasan tertentu lebih berpengaruh dari gagasa lain. Bagi Said, orientalisme pada hakikatnya tak lebih sebagai bentuk “legitimasi” atas superioritas kabudayaan barat terhadap inferioritas kebudayaan timur. Said juga berpendapat bahwa barat memang selalu memperlakukan timur tidak sebagai adanya (objektif), melainkan bagaimana seharusnya (subjektif). Dalam bukunya Edward W. Said menegaskan bahwa hanya dengan mengkaji teks-teks orientalis melalui operasi diskursif yang berlangsung di dalamnya, sehingga bisa menyingkap relasi ideologis yang terdapat dalam orientalisme. Meskipun muncul kontroversial pasca terbitnya Orientalisme, tidak sedikit “pewaris Said” yang memberikan aplaus. Kajian orientalisme yang di bedah Said secara
umum banyak berhutang budi pada dua intelektual kenamaan, Michael Foucolt dan Antonio Gramsci.
        Bagi Said, orientalisme merupakan sebuah diskursus yang tidak berkaitan dengan satu kekuasaan saja, melainkan dihasilkan melalui satu ajang pertukaran berbagai jenis kekuasaan. Said membagi empat jenis relasi kekuasaan yang hidup dalam wacana oreintalisme :kekuasaan politis (pembentukan kolonialisme dan imperialisme), kekuasaan intelektual (mendidik timur melalui sains, linguistik, dan pengetahuan lain), kekuasaan kultural (konosisasi selera, teks, dan nilai-nilai, misalnya timur memiliki kategori estetika kolonial, yang secara mudah bisa ditemukan di India, mesir, dan negara- negara bekas koloni lain), kekuasaan moral (apa yang baik dilakukan dan tidak baik dilakukan oleh timur). Relasi ini meurut Said, beroprasi berdasarkan ideologi yang disebut Antonio Gramsci sebagai hegemoni , suatu pandangan bahwa gagasan tertentu lebih dominan dari kebudayaan-kebudayaan lain. Orientalisme pada hakikatnya tak lebih sebagai bentuk “legitimasi” atas superioritas kebudayaa barat terhadap inferioritas kebudayaa Timur. Representasi bukanlah benar dan salah. Bag Said, representasi adalah formasi. Bahkan representasi merupakan deformasi kata Roland barthes. Identitas timur dipresentasikan, diformasikan, bahkan dideformasika, secara terus-menerus tanpa henti, dari kepekaan yan semakin lam khas ke arah satu kawasan geografis bernama Timur. Timur adalah sebuah metafora, yang dalam wacana barat, hanyalah berfungsi layaknya panggung dramaturgi. Di atas panggung ini, Timur diperankan sebagai dramawan, dengan para orientalis sebagai sutraaranya. Timur disuguhkan sedemikian rupa kepada para penonton, yang terdiri tidak hanya para pembaca barat, tetapi juga mereka yang membenarkan skenario sang sutradara.[3]
      Edward W. Said berasumsi bahwa “Timur” bukanlah fakta alam yang statis. Timur tudak semata-mata hadir, seperti halnya Barat yang tidak semata-mata ada. Seperti pemikiran Vico yang menegaskan bahwa “manusia mengukir dan menciptakan sejarahnya sendiri,” bahwa apa yang bisa mereka ketahui merupakan sesuatu yang telah mereka ciptakan. Proses penciptaan ini membuat Barat dan timur memiliki sejarah, kosakata, pemikiran, dan citranya sendiri. Dari proses ini, perlu bergerak lebih lanjut dengan menunjukkan pandangan yang masuk akal.

  1. Pandangan pertama, Keliru jika menyimpulkan bahwa dunia Timur pada dasarnya hanyalah suatu gagasan atau sebuah produk “imajiner” yang tidak memiliki realitas. Dunia Timur pada dasarnya memiliki citra tersendiri yang begitu mengairahkan di mata generasi-generasi muda Barat yang cerdas. Intinya yaitu konstelasi gagasan-gagasan sebagai suatu yang sangat penting mengenai Timur, dan bukan mengacu pada wujudnya semata-mata (meminjam kata-kata Wallace Steven).
  2. Pandangan ke dua, Kebudayaan, gagasan, dan sejarah tidak dapat dipahami atau di pelajari dengan sungguh-sungguh tanpa mempelajari pula kekuatan, atau kofigurasi-konfigurasi kekuasaannya. Meyakini Timur adalah ciptaan atau Timur yang di Timurkan, dan meyakini bahwa hal-hal semacam itu terjadi semata-mata karena tuntutan imajinasi, merupakan sikap yang tidak jujur. Relasi Barat dengan Timur adalah relasi kekuasaan, dominasi, dan hegemoni yang kompleks, sebuah relasi yang bagus ditunjukkan oleh K.M. Panikkkar dalam karyanya, Asia and Western Dominance. Timur mengalami orientalisasi (Timur ditimurkan) tidak hanya karena sifatnya yang bagi orang Eropa abad XIX cenderung aneh dan eksotik, tetapi juga karena Timur dapat dijadikan atau lebih tepatnya di paksa untuk menjadi “Timurnya” orang Eropa (boneka Timur bagi orang-orang Eropa). 
  3. Pandangan ke tiga, Jangan pernah beranggapan bahwa struktur orientalisme merupakan struktur “kebohongan” atau mitos belaka yang seandainya kebenaran tentangnya diungkapkan, akan mudah lenyap begitu saja. Said berkeyakinan bahwa orientalisme secara khusus lebih bermakna sebagai tanda kekuasaan Atlantik-Eropa terhadap dunia Timur daripada sebagai wacana yang murni dan jujur mengenai Timur. Orientalisme adalah sekumpulan teori dan praktik ciptaan yang mampu memberi investasi material yang luar biasa bagi dunia Barat. [4]


BAB III
Penutup

A. Kesimpulan

      Edward W. Said adalah tokoh yang menolak mendekontruksi pandangan oposisi biner di atas. Menurut said, pandangan kaum kolonialis Barat (khususnya kaum orientali) yang merendahkan pandangan Timur (masyarakat jajahannya) sebagai kontruksi sosial-budaya yang tidak terlepas dari kepentingan dan kekuasaan mereka. Karena itu pandangan dan teori-teori yang dihasilkannya tidaklah netral dan obyektif sebagaimana mereka duga.




DAFTAR PUSTAKA
W. Said, Edward. 2016. Orientalis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar




[1] Edward W. Said, Orientalisme. Pustaka Pelajar: Yogyakarta. 2016. Hal: ix-x
[2] Edward W. Said, Orientalisme. Pustaka Pelajar: Yogyakarta. 2016. Hal: viii
[3] Edward W. Said, Orientalisme. Pustaka Pelajar: Yogyakarta. 2016. Hal: xi
[4] Edward W. Said, Orientalisme. Pustaka Pelajar: Yogyakarta. 2016. Hal: 6-8

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Makalah: Orientalisme Edward W. Said"

Posting Komentar

POPULAR POSTS